Showing posts with label ilmu. Show all posts
Showing posts with label ilmu. Show all posts

Resolusi Lahan Produktif

Posted by Noer Rachman Hamidi


Musibah asap yang ‘mengalir’ sampai jauh ke negeri-negeri jiran ini hanya dua kemungkinan penyebabnya yaitu kebakaran atau pembakaran. Baik itu kebakaran  yang tidak disengaja atau pembakaran yang disengaja oleh oknum-oknum tertentu – tetap saja mestinya tidak boleh terjadi.

Penguasa negeri harus bisa mencegah musibah seperti ini berulang, apalagi bila ini kesengajaan untuk kepentingan ekonomis jangka pendek. Bagaimana caranya ? salah satu cara yang paling memungkinkan adalah mengikuti petunjukNya baik di Al-Qur’an maupun sunnah NabiNya, khususnya tentang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.

Yang sangat relevan untuk masalah ini adalah konsep Himaa seperti yang terungkap dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas R.A dari Ash Sha’ba bin Jutsamah berikut :
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda : “Tidak Ada Himaa kecuali kepada Allah dan RasulNya”. Yahya berkata : “Telah sampai kepada kami bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menetapkan Himaa di Naqi’ sedang ‘Umar pernah menetapkan Himaa di As-Saraf dan ArRabdzah””. (HR Bukhari).

Himaa adalah praktek kawasan lindung yang sebenarnya sudah ada sejak sebelum Islam, hanya saja di jaman jahiliyah Himaa digunakan untuk kepentingan penguasa/orang kuat yang menguasai daerah tertentu. Ketika Islam datang, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang praktek seperti Himaa di jaman jahiliyah tersebut.

Yang diijinkan dan bahkan juga dilakukan beliau adalah Himaa yang diarahkan untuk kepentingan umum jangka panjang. Himaa hanya boleh untuk kepentingan Allah dan RasulNya, maksudnya adalah untuk umat secara keseluruhan – bukan hanya untuk kepentingan kelompok. Pada contoh Himaa yang dibuat Rasulullah di an-Naqi yang diriwayatkan pada hadits tersebut di atas – dilarang melakukan perburuan pada radius 4 mil dan merusak pohon-pohon serta tanaman-tanaman pada radius 12 mil

Lebih jauh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang penguasa Himaa untuk kepentingan sendiri, rakyat tidak boleh dirugikan. Kebutuhan masyarakat setempat harus terpenuhi bukan hanya masa kini tetapi juga untuk pencadangan masa yang akan datang.

Praktek ini ini kemudian dilanjutkan oleh para khalifah penerus Nabi, bahkan di Arab Saudi sampai tahun 1960-an masih ada sekitar 3,000 Himaa sebelum akhirnya tergerus oleh berbagai kepentingan ekonomi jangka pendek.

Bagaimana Himaa yang dikelola sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan bisa mengatasi musibah seperti pada problem asap tersebut di atas ?

Musibah seperti asap ini terjadi karena segelintir oknum tertentu mengambil manfaat berlebihan dari lahan yang dikuasainya – mirip praktek di jaman jahiliah. Kemudian resiko ini diperparah dengan kurangnya pengawasan oleh penguasa setempat maupun penguasa negeri.

Kalau ada pengawasan yang ketat, masak sih api yang begitu luas cakupannya, sampai dari angkasa luar saja kelihatan – sampai menyeberang lautan selalu terlambat untuk diketahui..?

Sangka baik kita adalah kurangya pengawasan ini mungkin karena kurang prasarananya untuk mengawasi lokasi-lokasi yang sangat luas yang dikuasai swasta tersebut secara detil. Tetapi ini juga sulit di justifikasi di era teknologi pencitraan yang bahkan kita sudah bisa melihat rumah kita dari satelitnya Google !

Masalah kepentingan kelompok dan kurangnya pengawasan ini otomatis bisa diatasi bila konsep Himaa yang diberlakukan. Dengan konsep Himaa suatu wilayah dijaga kelestariannya untuk kepentingan umat secara keseluruhan, baik kepetntingan jangka pendek maupun kepentingan bagi keturunan yang akan datang.

Kepentingan jangka pendek seperti memberi sumber penghidupan (makan) bagi masyarakat sekitar, juga ternak-ternaknya. Kepentingan jangka panjang adalah untuk menjaga kelangsungan ketersediaan air, udara bersih dan juga makanan bahkan nantinya juga energi.

Bila masyarakat tahu betul bahwa wilayah Himaa ini adalah juga untuk mereka, pastinya mereka akan ikut sekuat tenaga menjaganya. Ini bisa menutupi kelemahan pemerintah daerah dan pusat untuk mengawasi wilayah-wilayah luas yang harus dijaga kelestarian ini.

Bagaimana membuat Himaa bermanfaat langsung bagi masyarakat sekitarnya kini dan nanti ?, bila yang ditanam di lokasi Himaa ini adalah berbagai jenis tanaman yang memberi sumber penghidupan/makanan maka masyarakat sekitar akan langsung merasakan manfaatnya – sehingga mereka akan terdorong untuk menjaganya.

Berbagai jenis tanaman polyculture yang disandingkan dan diunggulkan untuk membentuk Himaa ini dapat menggunakan pola Kebun-Kebun Al-Qur’an (KKA) yang bisa juga dilengkapi dengan kombinasi vegetasi lokal yang sesuai.

Lantas bagimana meng-Himaa-kan lahan-lahan yang kini terlanjur dikuasai swasta ?,  musibah kebakaran hutan ini bisa jadi peluang bagi pemerintah untuk menatanya. Pemerintah tentu mampu mengidentifikasi lahan-lahan mana yang menjadi sumber titik api. Bila pengelolanya tidak mampu mencegah kejadian ini berulang, bisa saja pemerintah memberi sangsi dengan mencabut Hak Guna Usaha-nya.

Cara kedua adalah masyarakat bisa rame-rame mengambil alih lahan yang bermasalah tersebut tetapi dengan cara yang baik dan difasilitasi oleh pihak yang berwenang, misalnya dengan membelinya dengan harga yang wajar. Uangnya dari mana ?, untuk kemaslahatan umat secara luas dan jangka panjang seperti ini bisa digerakkan konsep waqaf uang untuk penyelamatan lingkungan.

Setelah HGU balik ke pemerintah atau menjadi tanah waqaf, pemerintah atau pengelola tanah waqaf bisa mengelolanya sebagai Himaa dengan mengikuti petunjuk Allah dan RasulNya. InsyaAllah banyak ulama-ulama kita yang akan mampu menjabarkan konsep Himaa ini secara lebih baik dari yang dijelaskan disini.

Kami insyaAllah siap membantu dari sisi pengisian tanamantanaman yang dibutuhkan – baik tanaman yang secara spesifik disebutkan di Al-Qur’an,  maupun tanaman-tanaman yang disebut secara generik – yang tentu saja ada jenis lokalnya yang sesuai. Indahnya solusi Himaa ini adalah seperti sambil menyelam minum air, seperti sekali merangkuh dayung dua – tiga pulau terlampaui.

Yaitu sambil mengamankan lingkungan untuk kemaslahatan yang sangat luas, kebutuhan pokok masyarakat setempat terpenuhi berupa hutan penghasil pangan (food forest), cadangan air dan pada waktunya nanti insyaAllah juga sumber energi yang terbarukan.

Pastinya upaya seperti ini tidak mudah, tetapi bila ada cara yang lebih mudah – mestinya masalah kebakaran hutan seperti yang terjadi sekarang ini kan sudah tidak berulang lagi, musibah asap-pun seharusnya sudah tidak lagi menyengsarakan rakyat sendiri dan rakyat negeri-negeri jiran kita.

Bahwasanya problem yang sama masih terus berulang, barangkali memang kita harus mulai langkah-demi langkah yang berat seperti mengimplementasikan konsep Himaa tersebut di atas. Ini langkah mendaki nan sukar, tetapi sangat bisa jadi inilah jalan satu-satunya itu.

Wa Allahu A’lam

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:

coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Description: Resolusi Lahan Produktif
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Resolusi Lahan Produktif
SelengkapnyaResolusi Lahan Produktif

Beginilah bila kita meninggalkan Sumber Segala Ilmu...

Posted by Noer Rachman Hamidi


Ketika seluruh elemen masyarakat negeri ini disibukkan oleh pesta demokrasi beberapa bulan terakhir dan masih akan berlangsung hingga setidaknya tiga bulan kedepan, lolos dari perhatian kita tentang adanya masalah serius yang seharusnya lebih utama untuk menjadi fokus seluruh pihak yang berkompeten. Masalah tersebut adalah darurat pangan, yang diindikasikan dengan impor pangan yang melonjak akhir-akhir ini.

Kwartal I tahun 2014 ini saja, kita mengimpor  4.69 juta ton bahan pangan dengan nilai US$ 2.36 miyar atau sekitar Rp 27 trilyun. Terbesarnya untuk biji gandum (US$ 519.55 juta), gula tebu (US$ 397.53), kedelai (US$ 303.32 juta) dan susu (US$ 231.1 juta).

Kita juga impor bahan-bahan pangan yang tidak terlalu penting dengan jumlah impor yang menakjubkan. Misalnya kita impor tembakau (US$ 135.29 juta) dengan nilai yang bahkan lebih besar dari nilai impor jagung (US$ 133.36 juta).

Kita impor berbagai jenis cabe mulai dari yang kering tumbuk (US$ 6.03 juta), cabe awet sementara (US$ 1.2 juta) dan cabe segar dingin. Kita bahkan masih juga impor beras, garam, minyak goreng, bawang putih, kelapa, kentang, teh, kopi sampai ubi jalar !

Indonesia negeri katulistiwa, salah satu negeri yang paling kaya dari sisi biodiversity-nya. Sedangkan kekayaan biodiversity adalah modal utama untuk apa yang disebut ecosystem services – yaitu produk barang dan jasa yang tersedia di alam kita – yang kita perlukan agar kehidupan ini berkelanjutan.

Ecosystem services ini terdiri dari penyediaan pangan, air, naungan/rumah, pakaian, obat-obatan, perputaran iklim, kesuburan tanah, pengolahan limbah/polusi dlsb.

Kekayaan biodiversity yang terpusat di negeri-negeri seputar equatorial yang memiliki hutan tropis seperti Indonesia, seharusnya menjadi modal utama kita mengembalikan dan melestarikan ecosystem – yang kemudian dari ecosystem inilah segala produk dan layanan alam yang berkelanjutan bisa kita nikmati.

Bukan hanya itu, konsentrasi kekayaan biodiversity yang sangat tinggi di negeri kita – negeri katulistiwa ini, seharusnya menjadi tanggung jawab dan amanah besar bagi kita untuk menjaganya. Bukan untuk kepentingan kita saat ini saja, tetapi juga kepentingan seluruh penduduk bumi hingga akhir jaman.

Pertanyaannya adalah mengapa setelah 69 tahun merdeka yang terjadi justru sebaliknya ? negeri ini terjebak dalam darurat pangan yang mengimpor apa saja yang kita butuhkan ? ya karena selama ini kita tidak berperan positif dalam menjaga ecosystem ini. Karena kita tidak menjaganya, malah yang terjadi justru sebaliknya – maka  tidak banyak juga services yang bisa kita harapkan dari ecosystem yang rusak.

Lantas bagaimana kita bisa mengembalikan ecosystem ini agar dia bisa memberikan services-nya secara maksimal ? Usia manusia yang terlalu pendek dan ilmunya yang terlalu sempit – membuatnya sangat berisiko bila dia bereskperimen di alam tanpa menggunakan petunjukNya. Para expert memperhitungkan bahwa kecepatan kepunahan species di alam justru lebih dari 1,000 kali lebih cepat sejak manusia mengesploitasi alam dengan caranya sendiri.

Padahal di antara jutaan spesies di alam ini, manusia-lah yang diberi amanah sebagai wakil Allah di muka bumi untuk memakmurkannya. Dan untuk ini manusia dibekali dengan petunjukNya yang sangat detil untuk segala hal yang diperlukannya. Ecosystem services yang sempurna – yang berarti ketersediaan sumber-sumber pangan, obat, air, udara bersih sampai papan dan sandang – hanya bisa dijaga kelangsungannya bila manusia ini menggunakan petunjukNya.

Ilmu-ilmu baru insyaallah masih akan terus digali tiada hentinya dari sumber segala sumber ilmu yang hak – yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits, hanya dari sanalah jawaban untuk segala persoalan kehidupan manusia itu tersedia. Sebelum darurat pangan ini menjadi darurat kehidupan, kita perlu mengembalikan ecosystem di alam – agar layanannya berupa ecosystem services dapat terus kita nikmati sampai anak-cucu kita hingga akhir jaman. InsyaAllah.


www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Description: Beginilah bila kita meninggalkan Sumber Segala Ilmu...
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Beginilah bila kita meninggalkan Sumber Segala Ilmu...
SelengkapnyaBeginilah bila kita meninggalkan Sumber Segala Ilmu...

Menyimak kembali tànaman Alfaafa dari Al Quran

Posted by Noer Rachman Hamidi


Solusi agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah sesudah kita, dan juga solusi agar anak-anak kita tumbuh sama tinggi dengan bangsa lain di dunia ini insyaallah sudah begitu jelas – tinggal menunggu tindakan nyata kita untuk mengimplementasikannya.

Salah satu solusi ini adalah hasil diskusi yang membahas surat An-Naba' (Berita Besar) ayat ke 16. Ayat tepatnya berbunyi "wa jannaatin alfaafa" yang oleh penterjemah Departemen Agama diartikan sebagai "dan kebun-kebun yang rindang". Mungkin karena keterbatasan bahasa Indonesia, ayat tersebut diatas diterjemahkan sama persis dengan ayat lain yang berbunyi "wa khadaa iqo ghulba" (QS 80 :30) yang terjemahannya juga "dan kebun-kebun yang rindang" .

Sangat bisa jadi Allah mempunyai maksud lain ketika menggunakan kalimat yang berbeda untuk menggambarkan "kebun-kebun yang rindang" tersebut. Bisa jadi alfaafa yang menurut ustadz saya dalam bahasa arab umumnya berarti "berkumpul, bercampur baur, berdekat-dekatan" untuk meggambarkan banyaknya pohon dalam kebun dlsb.; juga berarti nama jenis tanaman tertentu ?.

Di dunia ini memang ada tanaman luar biasa yang dalam bahasa Inggris disebut Alfalfa atau dalam bahasa latinnya disebut Medicago Sativa - bisa jadi ini adalah tanaman Alfaafa dalam ayat tersebut diatas !. Karena menurut sejarah tanaman ini sudah ada sejak 6,000 tahun sebelum Masehi , dan dokumen tertua yang ada menjelaksan tentang tanaman Alfalfa ini adalah dokumen di Turki yang ditulis kurang lebih 1300 tahun sebelum masehi. Jadi tanaman Alfalfa memang ada pada saat Al-Qur'an turun !.

Terlepas dari kebenaran yang masih perlu dikaji – yaitu apakah yang disebut di Al Qur'an sebagai "wa jannaatin alfaafa" ini adalah "kebun-kebun yang rindang" secara umum, atau secara khusus diarahkan untuk kebun Alfalfa. Yang jelas tanaman Alfalfa ini memang merupakan karunia yang luar biasa dari Allah untuk umat manusia di dunia.

Karunia tersebut antara lain adalah :

1. Akarnya yang sangat dalam masuk ketanah, selain menjadi penahan erosi yang sangat efektif juga dapat menyerap hampir seluruh unsur-unsur penting yang ada di dalam tanah.

2. Memiliki protein yang sangat tinggi, dari sebuah riset di Kroasia, tangkai Alfalfa bisa mengandung protein sampai sekitar 18% ; dan bahkan daunnya bisa diatas 30 %.

3. Dengan kandungan protein yang sangat tinggi tersebut, maka seluruh hewan ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dlsb) akan sangat cepat tumbuh bila diberi makan dari Alfalfa ini.

4. Bahkan daun Alfalfa memiliki kandungan klorofil yang sangat tinggi yang bermanfaat untuk kesehatan manusia.

5. Dlsb.dlsb.

Lantas apa kaitannya tanaman Alfalfa ini dengan krisis berkurang tinggi-nya anak-anak Indonesia yang disebabkan oleh kurangnya makan daging ?.

Daging dari sapi, kambing dan lain sebagainya akan mudah dihasilkan dengan murah bila ditemukan tanaman yang mengandung protein tinggi seperti tanaman Alfalfa ini. Tidak heran negeri seperti Amerika menanam tambahan sekitar 9.2 juta hektar tanaman ini setiap tahunnya untuk makanan ternak mereka. Nilai ekonomi tanaman Alfalfa di negeri tersebut sangat tinggi ( nomor ketiga setelah jagung dan kedelai) karena menjadi sumber pakan ternak yang sangat efektif ini.

Lantas mengapa tidak kita tanam saja banyak-banyak agar kambing dan sapi kita cepat tumbuh – agar daging menjadi murah dan terjangkau oleh seluruh rakyat ?. Tidak mudah memang, beberapa pihak di tanah air sudah mencobanya tetapi belum berhasil.

Saat ini kita bisa membeli benih tanaman ini dari luar tetapi yang sudah dibuat infertile oleh produsennya. Inilah jahatnya mereka, mereka tidak menghendaki tanaman yang luar biasa ini tumbuh di negeri seperti Indonesia – agar negeri seperti kita ini tetap tergantung pada negara-negara tersebut untuk terus impor daginng dlsb.

Tetapi one way or another , kita harus bisa menumbuhkan tanaman ini banyak-banyak di negeri kita ini, agar kita bisa beternak kambing dan sapi banyak-banyak secara efisien. Agar anak-anak negeri ini mampu makan daging secara cukup kedepannya. Apalagi bila benar Alfalfa ini adalah tanaman yang disebut di surat An-Naba' tersebut diatas, pasti manfaatnya untuk seluruh umat manusia – tidak hanya bangsa negara maju saja.

Melihat potensi yang begitu besar ini, kami mengundang para ahli dan praktisi pertanian di seluruh Indonesia – yang memiliki pengetahuan atau pengalaman langsung dengan Alfalfa ini - untuk membantu kami membudi dayakan Alfalfa ini secara luas di Indonesia. Kami terbuka untuk berbagai bentuk kerjasama yang baik untuk membangun kegenerasi yang kuat kedepan, generasi penghafal Al-Qur'an yang minum susu kambing secara cukup dan juga makan daging yang cukup.

Siapa tahu Anda bisa menjadi bagian dari solusi atas masalah-masalah besar yang terkait dengan sumber pangan bangsa ini kedepan. Solusi yang petunjuknya sudah begitu jelas ada di Al-Qur'an . InsyaAllah bersama kita bisa !.

agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan,

Rumah Hikmah, www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Description: Menyimak kembali tànaman Alfaafa dari Al Quran
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Menyimak kembali tànaman Alfaafa dari Al Quran
SelengkapnyaMenyimak kembali tànaman Alfaafa dari Al Quran

Kemandirian Kebutuhan Minyak (dan Energi..?)

Posted by Noer Rachman Hamidi


Di antara sekian banyak tanaman yang ada di dunia, ada satu jenis tanaman yang keberkahannya secara eksplisit disebutkan di Al-Qur’an yaitu pohon zaitun.

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 24:35).

Selama ini kita berasumsi bahwa zaitun ini adalah tanaman negeri-negeri Arab  dan Mediterania – karena produksi terbesar zaitun dunia memang di Mediterania – yaitu Spanyol dengan luas tanam sampai 2.33 juta hektar dengan produksi sekitar 6.94 juta ton per tahun.

Mungkinkah negeri kita ini menjadi produsen besar zaitun dunia ?

Kemungkinan itu tentu selalu ada, hanya yang diperlukan adalah pikiran terbuka kita untuk mau belajar, berusaha dan terus mencoba sesuatu yang berbeda – sambil tentu saja memohon pada Yang Maha Pencipta untuk memudahkan jalan kita. Hanya Dia yang bisa menumbuhkan segala jenis pepohonan itu sebagaimana firmanNya :

“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (QS 27:60).

Maka jelas bila Allah berkehendak – pohon zaitun-pun akan bisa tumbuh sebaik-baiknya di negeri kita ini. Ini dari tataran Ilahiahnya, sekarang bagaimana dari tataran ikhtiari manusianya ?

Pertama dari statistik pohon-pohon yang paling banyak ditanam manusia di dunia. Zaitun menduduki nomor 3 pohon terbanyak ditanam di dunia setelah kelapa dan sawit. Menariknya adalah di dua jenis pohon yang lebih banyak dari zaitun tersebut, Indonesia berada di urutan no 2 untuk kelapa (setelah Philippine)  dan nomor 1 untuk sawit (di atas Malaysia).

Luas tanaman sawit Indonesia saat ini lebih dari dua kalinya luas tanaman zaitun di Spanyol – yang merupakan penghasil zaitun terbesar dunia. Artinya dari ketersediaan lahan, mestinya sangat cukup bagi kita untuk bisa menanam zaitun secara masif dalam jumlah yang sangat besar – seperti ketika kita menanam sawit.

Sama-sama penghasil minyak, tetapi yang satu (zaitun) disebut keberkahannya secara spesifik di Al-Qur’an – mengapa tidak ini yang kita pilih ? Apakah tanaman ini cocok ditanam di tanah kita ? pertama dahulu sawit juga bukan tanaman asli kita, awalnya dibawa penjajah Belanda konon hanya 3 atau 4 benih dari Afrika Barat. Lihat kini Indonesia menjadi produsen sawit terbesar di dunia.

Kedua dari sisi geografis, zaitun tumbuh terbaik di daerah daerah subur yang beriklim panas. Kurang apa banyaknya daerah subur yang kita miliki ? dan kurang panas apa sekarang suhu rata-rata kita ? Tetapi mengapa kita menganggap penting zaitun ini ?
  • Pertama tentu karena keberkahannya yang disebutkan di Al-Qur’an tersebut di atas.
  • Kedua karena keberkahan tersebut juga terbukti secara ilmiah. Bila minyak sawit banyak diperdebatkan dampaknya pada kesehatan misalnya,  minyak zaitun sebaliknya begitu banyak diberitakan manfaatnya.
Dengan begitu banyaknya bukti ilmiah yang menunjang minyak zaitun ini, sejak sekitar sepuluh tahun lalu di Amerika bahkan minyak zaitun boleh dilabeli sebagai minyak kesehatan. Diantara yang terbukti secara ilmiah itu adalah menurunkan kolesterol, menurunkan resiko penyakit cardiovascular, menurunkan tekanan darah, meningkatkan keperkasaan seksual, mengurangi resiko penyakit saluran pernafasan, anticancer, antiseptic dan antimicrobial.

Dengan mengungkapkan kelebihan minyak zaitun tersebut, tidak berarti juga serta merta kita gantikan lahan-lahan sawit dengan zaitun – meskipun nantinya bisa jadi para pemilik lahan sawit akan hijrah ke zaitun dengan sendirinya bila mengetahui nilai ekonomisnya yang juga luar biasa.

Tetapi saya lebih tertarik untuk mengarahkan pohon zaitun ini sebagai tanaman rakyat, agar sebanyaknya rakyat nantinya bisa menanam dua pohon zaitun dari jenis yang berbeda di halaman rumah-rumahnya. Perlu dua jenis karena pohon zaitun memberi hasil maksimal bila bisa terjadi polinasi dari dua jenis yang berbeda, disamping juga meminimasi penjalaran penyakit.

Pohon zaitun bisa dibudi dayakan-oleh rakyat karena bahkan untuk mengolah sampai menjadi minyakpun tidak harus membutuhkan industri, seperti di negeri Jordania (saya sempat membeli minyak zaitun produksi rumah tangga dalam perjalanan ke Al Aqsa). Dengan peralatan dapur yang seadanya, Anda bisa membuat minyak zaitun terbaik Anda sendiri – yaitu yang disebut EVOO (Extra Virgin Olive Oil).

 

Saya membayangkan suatu saat rakyat negeri ini tidak perlu pusing oleh mahalnya minyak goreng, kelangkaan minyak tanah dlsb. Semua bisa diproduksi sendiri dari halaman rumahnya. Memang perlu waktu untuk sampai ke sana, tetapi kalau kita mulai sekarang – insyaAllah generasi anak cucu kita akan bisa mandiri dari sisi minyak yang sehat ini. Suatu saat kita akan bisa makan goreng-gorengan yang murah, enak dan sehat karena minyaknya kita buat sendiri dari jenis minyak yang terbukti aman dan bahkan menunjang kesehatan tersebut.

Kandungan lemak buah zaitun sekitar 15.3 % , jadi cukup tinggi rendemen setiap buahnya yang bisa menjadi minyak. Produktifitas hasil buah zaitun per pohon juga bisa sangat tinggi. Ketika di awal masa berbuah mulai dari sekitar 10 kg/ pohon ; ketika pohon terus membesar hasilnya untuk jenis zaitun tertentu bisa mencapai 1 ton/ pohon.

Bentuk keberkahan lain dari phon zaitun adalah usianya yang bisa sangat panjang, salah satu pohon zaitun di Athena dimana Plato dahulu bernaung untuk mendirikan Plato Academy-nya – konon hingga kini pohon tersebut masih hidup – berarti 2400-an tahun sudah usianya.

Lantas bagaimana kita bisa mulai menanam pohon keberkahan yang usianya bisa sampai ribuan tahun ini ? Mulai dari yang kita bisa, mulai dari yang kita ada. Tidak terbatas pada knowledge tetapi juga benih dan bahkan pelatihannya untuk membangun skills yang dibutuhkan.

Jadi selain kurma, untuk anggur kini kami juga sudah memiliki jalur perolehan benih dan pelatihannya untuk membangun ketrampilan berkebun anggur.

Untuk zaitun sendiri, ada sahabat saya yang tidak sengaja menyimpan zaitun terbaik yang dibawanya langsung dari tanah Syam – yang secara spesifik disebut keberkahannya dalam ayat Al-Qur’an tersebut di atas.

Dari buah segar zaitun yang dibawa langsung dari negeri Syam oleh tangan pertama inilah nantinya mudah-mudahan zaitun bisa tumbuh dan berkembang di negeri yang subur ijo royo-royo ini. Seperti juga sawit, bisa jadi dunia menunggu kita di negeri ini untuk memproduksi secara masal kurma, anggur dan zaitun ini – tiga jenis tanaman yang paling banyak disebut dan disandingkan di Al-Qur’an.

Mengapa nunggu kita ?, karena di negeri inilah lahan-lahan subur dalam skala sangat luas itu tersedia. Di negeri inilah ratusan juta  muslim tinggal, jutaan diantaranya rajin membaca Al-Qur’an, puluhan ribu diantaranya bahkan hafal Al-Qur’an – dan diantara mereka ini pastinya banyak yang sangat menguasai tafsir ayat-ayatNya dengan sangat baik.

Bila penjajah Belanda yang tidak membaca Al-Qur’an saja bisa membuat rintisan yang kemudian menjadikan Indonesia produsen sawit terbesar di dunia ?, mengapa tidak kita untuk membuat rintisan agar kurma, anggur dan Sambil terus berusaha membenihkan biji-biji dari buah zaitun segar yang dibawa langsung dari tanah Syam tersebut, kita perlu terus berdo’a memohon pertolonganNya – karena hanya dia-lah yang sanggup menghidupkan tanaman dari biji-bijian tersebut.

“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS 6:95).

InsyaAllah kami siap berbagi know-how dan skills  pada waktunya setelah eksperimen-eksperimen ini berhasil. Amin YRA.

www.agribisnis-indonesia.com
Rumah Hikmah, www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Description: Kemandirian Kebutuhan Minyak (dan Energi..?)
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Kemandirian Kebutuhan Minyak (dan Energi..?)
SelengkapnyaKemandirian Kebutuhan Minyak (dan Energi..?)

Pura-Pura Tidak Tahu

Posted by Noer Rachman Hamidi

Dua berita yang berbeda pernah muncul di dua harian, yaitu yang pertama tentang “Ketahanan Pangan Mengkawatirkan” (Kompas 27/09/13) dan yang kedua adalah “Warna Gelap Pulau Jawa di Peta NASA” (Republika 27/09/13). Bila diurut-urutkan dua masalah besar ini berujung pada satu hal – yaitu kita kurang banyak menanam.

Saya yakin bahwa para pengambil kebijakan di negeri ini tahu masalah tersebut, hanya mungkin "pura-pura tidak tahu saja". Suramnya prospek ketahanan pangan kita tersebut tergambar dalam ucapan Ketua Umum KADIN : “Kita tidak  memiliki konsep kebijakan holistic yang mengandung unsur-unsur sinergis untuk menghadapi ketahanan pangan”. Juga diungkapkan prediksi FAO bahwa dunia akan mengalami krisis pangan tahun 2025 – sekitar 12 tahun dari sekarang.

Mengenai warna gelap pulai Jawa di peta NASA, ini menyangkut tingginya tingkat kematian karena polusi udara yang tergolong terburuk untuk Pulau Jawa. Bandingkan ini dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia seperti Kalimantan dan Irian.

Masalahnya jelas yaitu ancaman kekurangan pangan dan polusi udara berat yang keduanya mengancam jiwa manusia yang tinggal di negeri ini – khususnya juga pulau Jawa yang ekstra padat ini. Penyebabnya-pun jelas yaitu kita kurang banyak menanam tanaman yang bisa dimakan dan tanaman yang menyelamatkan lingkungan, kita memadati pulau Jawa ini dengan pabrik-pabrik, perumahan, industri dan infrastruktur – sehingga tidak lagi tersisa lahan yang cukup untuk ditanami.

Lantas siapa yang bisa mengatasi hal ini ? Selama "pura-pura tidak tahu" sehingga sekaliber Ketua Umum KADIN-pun mengungkapkan ketiadaan kebijakan yang menyeluruh dalam masalah ini – maka kita tidak bisa berharap pada kebijakan publik pemerintah dalam hal ini.

Tetapi kita bisa berbuat apa ? Alhamdulillah urusan keberkahan suatu negeri itu tidak tergantung oleh pemimpinnya, tetapi tergantung pada penduduknya (QS 7 : 96). Artinya kita bisa rame-rame berbuat, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita – untuk bisa menyelamatkan jiwa anak-anak dan keturunan kita dari dua krisis berat dibidang pangan dan pencemaran udara tersebut.

Keimanan dan ketakwaan ini juga harus diwujudkan dengan amal shaleh sedemikian rupa sehingga berlaku janji Allah :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalamal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS 24 :55).

Lantas amal shaleh seperti apa yang relevan untuk dua krisis yang sedang kita hadapi ini ?

Antara lain ya menanam untuk kecukupan pangan dan menanam untuk memperbaiki lingkungan yang telah rusak sebagaimana tergambar dalam peta tersebut di atas.

Menanam apa yang sesuai dengan sasaran pangan dan lingkungan tersebut ?,

yang paling memungkinkan adalah menanam tanaman-tanaman hutan pangan atau agroforestry. Namun agar dalam melakukan ini kita tidak melakukannya secara trial & error yang kesalahannya baru diketahui sekian tahun kemudian, maka sedari awal kita harus mengandalkan petunjuk yang dijamin kebenarannya sepanjang masa – maka agroforestry kita bukan sembarang agroforestry – tetapi agroforestry yang mengandalkan petunjukNya atau kita sebut "Qur’anic Desain".

Karena ini pekerjaan besar yang menuntut waktu lama sedangkan usia kita terbatas, maka konsep yang sudah kita rintis ini akan segera kami tularkan ke generasi muda yang memiliki passion di bidang ini. Dengan langkah-langkah kecil tetapi konkrit, kita berharap bisa menjadi penduduk-penduduk negeri yang ikut menghadirkan keberkahan di negeri ini sebagaimana yang dimaksud di QS 7:96. Ketika mereka pura-pura tidak tahu, maka kafilah tetap berlalu. Amin YRA.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Description: Pura-Pura Tidak Tahu
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Pura-Pura Tidak Tahu
SelengkapnyaPura-Pura Tidak Tahu

Memakmurkan Petani

Posted by Noer Rachman Hamidi

Di salah satu desa paling subur di Magelang - Jawa Tengah, lurah setempat mengaku tidak bisa membendung aliran penjualan tanah sawah para petani. Para petani lebih tertarik untuk menjual sawah-sawah mereka untuk sekedar membiayai anaknya masuk menjadi pegawai negeri, polisi atau tentara. Mengapa demikian ?

Dengan cara bertani konvensional, pendapatan petani memang tidak menarik. Tetapi petani bukan tanpa harapan, ada peluang besar menanti mereka. Yang saya sebut bertani konvensional adalah bertani seperti yang dilakukan oleh para petani sekarang. Sekali menanam, panen sekali dan untuk ini diperlukan tenaga kerja yang intensif, biaya benih, pupuk dan obat-obatan.

Cara bertani demikian sebenarnya belum terlalu lama, sebelum Perang Dunia II umumnya petani tidak mengenal pupuk apalagi insektisida seperti yang mereka kenal sekarang. Dunia mengenal pupuk kimia setelah produksi bahan-bahan kimia untuk keperluan perang di masa PD II tidak habis terjual, maka bahan-bahan kimia tersebut dijuallah ke para petani dalam bentuk pupuk !

Akibatnya tanah menjadi seperti orang yang kecanduan, bila tidak diberi pupuk produksi langsung turun – tetapi bila terus diberi pupuk – kualitas tanah juga terus menurun secara gradual, dan dalam jangka panjang produktifitas lahan juga pasti turun.

Ketika biaya bertani meningkat pesat karena ongkos pupuk dan obat-obatan kimia, sementara hasil pertaniannya menurun – maka disitulah penghasilan petani menjadi tidak menarik dan mereka rame-rame menjual lahannya ke kelompok masyarakat yang bukan petani dan tidak terlalu eager untuk memakmurkan lahan pertanian.

Dari sinilah muncul masalah besar produksi pangan kita secara nasional. Bila petani Indonesia rata-rata memiliki lahan 0.25 hektar, maka di daerah yang paling subur sekalipun mereka hanya akan panen padi tiga kali. Katakanlah masing-masingnya 6 ton/hektar (rata-rata nasional hanya 5.1 ton/hektar), petani dengan 0.25 ha lahan hanya akan mendapatkan 1.5 ton gabah sekali panen. Dengan harga gabah sekarang dikisaran Rp 5,000/kg; petani hanya memperoleh hasil penjualan gabahnya Rp 7.5 juta per panen. Tiga kali panen berarti mendapatkan Rp 22.5 juta.

Tetapi ingat bahwa Rp 22.5 juta ini adalah penjualan kotor, setelah dipotong biaya tenaga kerja, bibit, pupuk dan obat-obatan katakanlah 50 %-nya, maka petani dengan luas lahan 0.25 hektar yang subur hanya akan mendapatkan pendapatan bersih Rp 11.25 juta setahun (tiga kali panen) atau Rp 937,500,- bila dirata-rata bulanan. Gaji pegawai negeri terendah-pun kini Rp 1,323,000 per bulan (golongan 1 A dengan masa kerja nol tahun), jauh lebih tinggi dari petani rata-rata yang memiliki lahan 0.25 hektar.

Maka tidak mengherankan bila para petani hingga kini terus rajin menjual lahannya untuk membiayai anaknya masuk menjadi pegawai negeri dlsb. Bila arus ini dibiarkan terus, maka akan semakin banyak lahan-lahan petani yang jatuh ke tangan orang kaya hanya untuk sekedar klangenan (hiburan), mereka tidak antusias mengolahnya dan malah lebih sering hanya sebagai investasi belaka. Ketahanan pangan nasional akan terancam bila praktek demikian dibiarkan.

Lantas apa solusinya ? berikut adalah setidaknya  dua solusi yang kami padukan dari multi disiplin dan masing-masing keahlian telah memulai mencobanya di lapangan atau mulai melakukan pembibitannya.

Pertama adalah Go Organic – ini yang sudah dicoba oleh teman-teman kami di JawaTengah dengan hasil yang sangat baik. Bertani organic tidak harus mahal, justru sebaliknya bisa menjadi murah karena tidak ada pupuk dan obatobatan kimia yang perlu dibeli mahal, cukup membuat sendiri dengan komponen microba yang sangat murah. Menurut hitungan team kami bahkan setelah sekitar 15 kali panen (5 tahun), pupuk-pupuk organic-pun tidak diperlukan sama sekali.
Tanah sudah kembali subur alami kembali ke pra PD II sebelum pupuk kimia dikenal !

Kedua menggabungkan pertanian dengan peternakan atau perikanan. Bisa dimulai dengan perikanan yang cepat memberikan hasil panen sebagai started up, ide kami adalah berternak lele sangkuriang organik dengan konsep "padat tebar tinggi" dengan kepadatan lele 1000 ekor siap panen per-1 meter kubik, yang dapat memberikan hasil panen setiap 2 bulan dan bisa didesain agar petani dapat menerima hasil panen setiap bulan dengan rata-rata hasil panenan minimal 2 ton dengan penghasilan per-bulan sebesar Rp.6.000.000,- setiap 2 ton panenan. Adapun pakan lele sudah dapat di produksi sendiri dari hasil fermentasi jerami, dedaunan dll. Sedangkan air buangan lele dapat dijadikan pupuk organik untuk tanaman.

Kolam Lele dengan konsep "Padat Tebar Tinggi"
Ketiga melengkapi pojok-pojok sawah petani dengan tanaman jangka panjang yang diambil buahnya. Ide kami adalah bisa kurma, zaitun, anggur atau kombinasi diantaranya. Petani hanya perlu menanam sekali tetapi akan terus memetik hasilnya sampai anak turunan mereka. Dengan dua langkah ini saja matematika petani sudah akan jauh berubah. Dengan hasil yang dua kali lipat dan biaya yang separuh dari sebelumnya, maka bertani sudah bisa kembali menarik.

Hasil dua kali lipat ini ditunjukkan oleh beberapa kali panen padi organik kami di Boyolali yang berada di sekitar angka 12 ton/hektar atau 3 ton untuk tanah 0.25 hektar. Penjualan kotor padi petani menjadi 3x3,000xRp 5,000 = Rp 45,000,000. Setelah dipotong biaya tenaga kerja dan pupuk organik Rp 11,250,000, petani dengan 0.25 ha lahan akan memiliki penghasilan bersih Rp 33.75 juta setahun atau rata-rata Rp 2,812,500 sebulan. Ditambah lagi dengan hasil panenan lele organik setiap bulannya sebesar Rp.6.000.000,-.

Dengan angka ini saja bertani sudah bisa kembali lebih menarik ketimbang memaksakan diri menjual sawah untuk biaya anak masuk menjadi pegawai. Hasil bertani akan semakin menarik, manakala poohon-pohon jangka panjang yang ditanam tersebut mulai berbuah beberapa tahun kemudian.

Dari sinilah kami melihat masa depan cerah bagi petani bisa kembali kita visikan. Bila masa depan petani cerah, maka ketahanan pangan nasional-pun insyaAllah akan aman. Mudahkah ini ?, tentu tidak ada yang mudah, semuanya membutuhkan kerja keras yang memerlukan kesabaran. Tetapi semua itu mungkin dilakukan karena memang sudah dicoba. Bahkan bagi masyarakat yang membutuhkan pelatihan untuk bertani secara organic ini, unit usaha kami di Boyolali- Jawa Tengah insyaAllah bisa membantu.

Lebih dari ikhtiar yang bersifat fisik, masyarakat juga perlu diajak untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaannya secara terus menerus. Hanya dengan iman dan takwa inilah negeri ini akan memperoleh keberkahanNya, dan di negeri yang diberkahi, hasil panenan itu banyak dan enak (QS 2:58). InsyaAllah.

www.agribisnis-indonesia.com
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Description: Memakmurkan Petani
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Memakmurkan Petani
SelengkapnyaMemakmurkan Petani

Pengendali Pangan Dunia

Posted by Noer Rachman Hamidi

Menteri luar negeri Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1970-an, saat itu dia membuat membuat pernyataan “If you control the oil, you control the country; if you control food, you control the population”.

Setelah minyak kini terbukti dikendalikan oleh segelintir pihak – yang juga terbukti mengendalikan negara, sejumlah pihak rupanya sedang ancang-ancang untuk mengendalikan pangan dunia. Petani-petani yang bunuh diri di India tersebut hanyalah contoh-contoh korban yang sudah terjadi, karena beberapa pihak sedang meng-exercise keahliannya untuk menguasai sumber-sumber pangan dunia.

Siapa-siapa mereka ini ? Orang selama ini terkagum-kagum dengan yayasannya Bill and Melinda Gates yang anggaran belanjanya saja mendekati anggaran belanja badan dunia sekelas WHO ! tetapi untuk apa ini ? Menurut salah satu laporannya Centre for Research and Globalization (CRG) Canada, Sebagian kecil memang dana tersebut untuk program-program kemanusiaan – agar foundation tersebut mendapatkan keistimewaan pajak.

Tetapi yang sangat besar dari anggaran yayasan orang paling kaya di dunia ini adalah untuk program-program yang memiliki agenda khusus. Salah satunya yang sangat besar adalah untuk membiayai gudang benih hari kiamat atau mereka sebut Doomsday Seed Fault di laut Barents tersebut di atas.

Di suatu tempat yang nyaris tidak berpenghuni – di Swalbard – sebuah gudang super aman dibangun. Gudang ini dirancang untuk tahan terhadap guncangan nuklir sekalipun, dan bisa dioperasikan secara otomatis tanpa perlu operator manusia di sana.

gudang super aman di Swalbard, Kutub Utara.

Apa isinya ? ya itu tadi jutaan benih dari seluruh dunia yang menurut mereka sudah di’mulia’kan dengan genetic technology – padahal siapa yang lebih mulia ciptaannya selain dari Allah Sang Pencipta sendiri ?

Mungkin kalau hanya Bill Gates dan istrinya yang membangun gudang tersebut, orang masih bisa berprasangka baik bahwa karena dia orang super kaya – maka dia ingin dan bisa berbuat banyak untuk kemanusiaan.

Baru menjadi mencurigakan karena ternyata Gates tidak sendirian, disampingnya ada Rockefeller Foundation dan berbaris dibelakangnya hampir seluruh nama-nama besar dunia di bidang GMO – Genetically-Modified Organism, yaitu para penguasa benih dunia yang antara lain membuat para petani India bunuh diri di atas.

Jadi di dekat kutub utara yang sangat dingin, ditempat yang nyaris tidak dijamah oleh manusia – sedang dibangun upaya untuk menguasai pangan dunia. Suatu upaya untuk mengimplementasikan ucapan Henry Kissingers “If you control food, you control population”.

Menjadi lebih menarik lagi, bila kita gali siapa-siapa di belakang foundations dan corporations yang sedang membangun ‘bukit roti’ ini dengan hadits shahih berikut : “ Tidak ada orang yang lebih banyak bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘ Alaihi Wasallam tentang Dajjal daripadaku, dan beliau bersabda kepadaku : “Hai anakku ! engkau tidak usah terlalu risau memikirkannya. Dia tidak akan mencelakakanmu ! “ Kataku : “Orang-orang menganggap bahwa Dajjal itu mempunyai sungai mengalir dan bukit roti”. Beliau bersabda : “ Itu sangat mudah bagi Allah Ta’ala untuk menciptakannya”. (Shahih Muslim no 4005 dan Shahih Bukhari no 6589 dengan teks yang sedikit berbeda).

Maka agar populasi kita tidak dikendalikan oleh ‘pasukan Dajjal’ yang sedang membangun ‘bukit rotinya’ sambil mulai berupaya mengendalikan pangan dunia – seperti yang sudah terjadi di India, maka sungguh umat ini perlu benar-benar beriman dan beramal shaleh (QS 18:2) agar bisa benar-benar keluar dari ‘fitnah Dajjal’ baik Dajjal kecil maupun yang besar nantinya.

Dalam kaitan dengan ‘bukit roti’ yang sedang dibangun ‘Dajjal’, amal shaleh yang kita butuhkan antara lain ya menguasai seluk-beluk pangan kita dari hulu sampai hilirnya.

Dari hulunya adalah usaha untuk menghasilkan benih atau bibit-bibit makanan kita sendiri, mengelola lahan-lahan pertanian/perkebunan kita sendiri – sampai di hilirnya adalah menguasai menu-menu makanan di meja makan kita yang tidak boleh dikendalikan oleh scenario ‘roti Dajjal’.

Mengapa demikian ?, karena kalau hanya di hulu kita kuasa - tetapi menu di meja makan masih menu mereka – maka mau tidak mau kita akan tergantung pada sumber bahan baku dari mereka.

Demikian pula sebaliknya, bila hanya di menu saja kita dandani sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah sementara di hulu produksi bahan bakunya tidak kita kuasai – maka kita juga akan tergantung pada bahan baku dari ‘bukit roti’ mereka.

Barangkali inipula salah satu hikmahnya kita disunahkan untuk menghafal 10 ayat pertama dari surat Al-Kahfi untuk bisa menghidari fitnah Dajjal. Karena didalamnya antara lain ada ayat yang memerintahkan kita untuk beriman dan beramal shaleh tersebut di atas.

Maka inilah salah satu amal shaleh yang kini menjadi fardhu kifayah – bagi umat ini, yaitu membangun kemandirian pangan kita sendiri. Bukan hanya untuk bangsa, tetapi lebih luas dari itu yaitu untuk umat. Sebagian dari petani-petani yang tercekik kehidupannya di India sana juga bagian dari umat ini, dan mereka menjadi cermin bagi kita – akan seperti itulah kita bila kita tidak beramal shaleh mulai dari kita di sini di jaman ini. InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Description: Pengendali Pangan Dunia
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Pengendali Pangan Dunia
SelengkapnyaPengendali Pangan Dunia

Bahan Organik dan Proses Dekomposisi Pengomposan

Posted by Noer Rachman Hamidi


Bahan organik terdiri dari campuran sisa tanaman dan hewan dalam berbagai tingkat proses penghancuran bahan organik, campuran dari senyawa-senyawa yang sintetis dari hasil pelapukan baik secara kimia maupun biologi dan sisa-sisa dekomposisinya .

Pada dasarnya keberadaan bahan organik didalam tanah memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan  dan perkembangan tanaman melalui fisika, kimia dan biologi tanah. Pengaruh bahan organik terhadap sifat fisik tanah ditunjukan dengan terjadinya perbaikan dan perubahan dari beberapa sifat fisik tanah , antara lain berat volume dan daya ikat lengas tanah. Pegaruh Kimia meliputi peningkatan kapasitas Tukar Kation (KTK), PH dan kandungan unsur hara,  sedangkan pengaruh biologi dihubungkan dengan bahan organik tersebut sebagai sumber energi dan mokrobia tanah dalam melakukan aktivitas hidupnya. Secara garis besar pengomposan diartikan sebagai proses perubahan  limbah organik melaluikompos melalui aktivitas biologi dibawah kondisi yang terkontrol.

Menurut Houg (1993) Pegomposan adalah dekomposisi biologi dan stabilisasi substrak organik dibawah kondisi yang sesuai dengan perkembangan suhu thermopilik dari hasil produk biologi, hasil akhirnya berupa kompos yang stabil, bebas penyakit dan gulma dan dapat memberikan keuntungan dilahan. Kecepatan dekomposisi dipegaruhi oleh banyak faktor. Dalam dekomposisi, dimana nutrisi dilepaskan, terjadi ketika substrak organik kaya akan nutrisi, nisbah C/N dan C/P sangat renda.

Perbedaan formulasi bahan organik, perbedaan teknik dan lamanya pengomposan, serta perbedaan tingkat aplikasi ( teknik da perbedaan waktu), akan berpengaruh terhadap peyebaran nutrisi dari baha organik (Melech, 1985). Tujuan pegomposan adalah untuk memantapkan bahan –bahan organik yag berasal dari bahan limbah, meguragi bau busuk, membunuh organisme pathogen(penyebab penyakit),membunuh biji-biji gulma da pada akhirnya menghasilkan pupukorganik/ kompos yang sesuai dengan taah. Pengomposan dinyatakan selesai bila kompos dalam keadaan matang. Menurut Kurihara (1984) , kematanga kompos dicirikan bila kompos disimpan tidakmenimbulkan gangguan atau jika diaplikasikan ke dalam tanah tidak menimbulkan masalah. Hsieh (1990) mengelompoka kematangan kompos dalam tiga kategori:
  1. Kompos belum matang : dalam kategori ini bahan yang dikomposkan warna dan bentuk dari bahan asli mudah diidentifikasi.
  2. Kompos matang sebagian: dalam kategori ini bahan yang dikomposkan berubah warna menjadi kecoklatan, tetapi masih kelihatan  bentuk aslinya dan tidak mudah dihancurkan apabila digesek-gesekan dengan jari/ tangan
  3. Kompos matang : Pada kompos matang sebagaian besar bahan yang dikomposkan berstruktur crumbel berwarna coklatr kehitaman.
Permasalahan dalam pegomposan bahan organik segar seperti jerami adalah nisbah jerami adalah nisbah C/N yang sangat tinggi ( lebih dari 100). Sedangkan nisbah ideal untuk pengomposan adalah 30-40 ( Haga, 1990).Penurunan nisbah C/N dapat dilakukan dengan penambahan unsur nitrogen dari luar misalnya dengan penggunaan kompos matang atau dengan penambahan pupuk kandang yang sudah terdekomposisi.


Bahan organik yang sedang menjalani proses penghancuran yang dilakukan oleh mikro organisme dan mengalami perubahan dari mulai bahan segar- bahan menjadi lapuk- kompos matang -  sampai dengan humus adalah merupakan Dekomposisi.  Berikut gambar yang menjelaskan proses dekomposisi.

http://goo.gl/5Y1ln
www.agribisnis-indonesia.com

Description: Bahan Organik dan Proses Dekomposisi Pengomposan
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Bahan Organik dan Proses Dekomposisi Pengomposan
SelengkapnyaBahan Organik dan Proses Dekomposisi Pengomposan

Struktur Tanah

Posted by Noer Rachman Hamidi

Memang tidak ringan seorang petani untuk memahami ilmu struktur tanah, namun apabila seorang petani mengerti benar bahwa ilmu pertanian sangatlah penting menyangkut aspek aspek keberadaannya. Tanaman tumbuh di tanah secara alamiah bisa hidup namun spesifikasi tanaman yang hidup itu perlu perawatan dan perhatian seseorang dalam rangka akan dinikmati hasilnya, maka perlu belajar dari pengalaman pengalaman serta mengerti akan kebutuhan tanaman yang sedang di rawat. Hal ini perlu penjelasan penjelasan dan tindakan yang jelas, mengenai Struktur Tanah yang meliputi TANAH / MEDIA TANAM, TANAMAN, AIR DAN NUTRISI/UNSUR HARA
Struktur Tanah
Struktur Tanah
STRUKTUR TANAH
  • 25 % Udara
  • 25 % Air
  • 45 % Mineral
  •   5 % Bahan Organik
Sebagai Jantung Kehidupan Tanah


PERTANIAN ORGANIK

Tanah di dunia ini prinsipnya baik, jadinya kurang baik adalah adanya beberapa tindakan sesaat yang kurang baik akibatnya terhadap tanah. Sedangkan hasilnya pun kurang ( perlu perlakuan yang benar )

PELAKU wajib mengerti ilmu tanah, karena tanah yang baik berstruktur seperti tersebut diatas dalam pengertian bahwa: kita harus memasukkan bahan organik atau di sebut Kompos  sebanyak 5% dari Horison A ( setebal 20 s/d 30 cm.)  Top soil artinya bahan tersebut akan merubah struktur dimana oksigen akan berada di dalam tanah juga dalam membantu memproduksi unsur hara dan nutrisi serta peningkatan kapasitas tukar kation KTK, termasuk MOL ( Mikroorganisme Lokal ) dari sumber bakteri yang di maksud. Perlu diperhatikan, kompos dan mol adalah team sukses yang akan merubah/memperbaiki tanah secara fisik, biologi dan kimia/mineral tanah selaras dan sepadan.


MEMPERBAIKI FISIK TANAH SEPERTI APA....?
  1. MEMBUAT  TANAH MENJADI GEMBUR
  2. TANAH BISA MENGIKAT AIR LEBIH BANYAK
  3. MEMPERTAHANKAN AIR TANAH DARI PENGUAPAN DAN ALIRAN PERMUKAAN
  4. MERESAPKAN AIR KE DALAM TANAH DENGAN BAIK (TIDAK ADA GENANGAN)
  5. MEMASUKKAN DAN MENGALIRKAN UDARA DI DALAM TANAH DENGAN BAIK
  6. KONSISTENSI TANAH MENJADI LEBIH BAIK
  7. KOMPOSISI BAHAN PENYUSUN TANAHNYAMENJADI LEBIH BAIK
  8. TANAH MENJADI MEDIA YANG BAIK UNTUK PERGERAKAN AKAR
  9. WARNA TANAH MENJADI LEBIH GELAP/COKLAT KEHITAMAN
  10. TANAH MENJADI MUDAH DIOLAH/DIBAJAK      

MEMPERBAIKI BIOLOGI TANAH SEPERTI APA....?
  1. TANAH MENJADI RUMAH YANG IDEAL BAGI MAKHLUK HIDUP DI DALAM TANAH
  2. SUMBER MAKANAN UNTUK BAKTERI PENGURAI DAN CACING MUDAH TERSEDIA
  3. KERAGAMAN HAYATI DALAM TANAH MENINGKAT
  4. PROSES PEMBENTUKAN NUTRISI MENJADI MENINGKAT (NITRIFIKASI DAN NITRATISASI TINGGI) / PABRIK BIOLOGIS
  5. MENGUNDANG MUSUH ALAMI/PREDATOR LEBIH BANYAK
  6. PROSES DEKOMPOSISI DALAM TANAH BERJALAN DENGAN BAIKHUMUS DI PERMUKAAN LEBIH BANYAK TERBENTUK

MEMPERBAIKI KIMIA TANAH  SEPERTI APA....?
  1. UNSUR HARA MACRO DAN MICRO DALAM TANAH MUDAH TERBENTUK DAN SELALU TERSEDIA SESUAI KEBUTUHAN TANAMAN
  2. PERTUAKARAN NUTRISI DALAM TANAH (KTK) MENJADI LEBIH BAIK
  3. KONDISI pH TANAH NETRAL (PH=7)/MIRACLE MATTER
  4. TANAH MENJADI PUNYA KEKUATAN PENYANGGA (BUFFER)
  5. MENGIKAT DAN MEMPERTAHANKAN NUTRISI DALAM TANAH SEHINGGA TERHINDAR DARI PELEPASAN NUTRISI MELALUI PENGUAPAN DAN  LEACHING (ALIRAN PERMUKAAN)
  6. MENGURANGI PELEPASAN GAS RUMAH KACA (GAS METANA, CO2  dan N2O) YANG BISA  MENIMBULKAN DAMPAK BERUPA PEMANASAN GLOBAL DAN PERUBAHAN IKLIM 
  7. PROSES RESPIRASI DI AKAR BERJALAN BAIK

TANAMAN

Terdiri dari :
  • Pertumbuhan Akar, Batang dan Daun
  • Pembentukan Bunga dan Bakal Buah
  • Proses Pemasakan Buah

Apapun tanamannya harus memperhatikan dimana akan ditaman tanaman, maksudnya media tanam / tanah yang akan ditanami harus sudah berstruktur yang baik agar akar mudah mengembang secepat mungkin tentunya dengan memperhatikan management perakaran.

Kebutuhan Hara Tanaman:
  • C, H, O >  udara
  • N, P, K  >  makro primer
  • S, Mg, Ca > makro sekunder
  • Fe, Mn, Cu, Cl
  • Na,Si, Zn, Mo,  > unsur mikro
  • B, Co    
  • 16 hara esensial bagi tanaman
Nabatiyah seluruh tanaman dibumi memerlukan makanan yang semuanya akan termakan dalam bentuk cairan, kondisi tanah / media tanam yang ideal memenuhi  minimal 16 unsur bahkan lebih menurut pakar ahli mikrobialogi ada 92 unsur hara di dalam tanah.

Kita telah membuktikan bahwa menanam padi tanpa menggunakan / memupuk  dg pupuk anorganik ( pupuk pabrikan ) bisa memanen padi hingga lebih 9 ton/ha lebih. Hal ini percaya atau tidakpercaya. Yang pasti team sukses ( KOMPOS DAN MOL ) cukup mengagumkan sebab bahan tersebut mempunyai kekuatan yang melebihi dari PUPUK KIMIA SINTETIS yaitu dengan kemampuan yang hebat memBIOREAKTOR antara KOMPOS DAN MOL....!
Alhamdulillah.


http://goo.gl/G5Po7
www.agribisnis-indonesia.com

Description: Struktur Tanah
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Struktur Tanah
SelengkapnyaStruktur Tanah